Read

Paludikultur Sebagai Teknik Pengelolaan Gambut Berkelanjutan

Melalui teknik paludikultur, tanaman karet, pinang, dan kopi dapat menjadi model program desa dan menjadi bagian dalam menjaga ketahanan lahan gambut Indonesia. Demikian dijelaskan oleh peneliti dari Pusat Penelitian Hutan, Badan Litbang dan Inovasi Kementerian LHK, Dr. Hesti Lestari Tata pada Pojok Iklim, Rabu (18/4/2018).


Pojok Iklim adalah forum multi pihak untuk berbagi aksi dan pembelajaran terbaik dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Pada diskusi ini juga hadir sebagai narasumber Owin Jamasy Ph.D, peneliti dan sosiologi dalam bidang pemberdayaan masyarakat dan manajemen sumber daya manusia. Diskusi ini dimoderasi oleh Sahdin Zunaidi Siregar, Kasubdit Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi.


Teknik paludikultur bisa diterapkan kepada masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat dan memiliki poin penting dalam pergerakan ekonomi masyarakat. “Diperlukan dukungan dari pemerintah untuk pengembangan hasil produksi paludikultur. Selain itu diperlukan juga sosialisasi kepada perusahaan terkait pengembangan produksi hasil-hasil tanaman tersebut sehingga apabila ada sponsor/ perusahaan yang tertarik dapat membuka jalan bagi produk tersebut meningkat dalam segi pemasaran,” ujar Hesti.

Paludikultur merupakan salah satu teknik pemanfaatan lahan gambut kering dan basah. Lahan gambut tersebut dibasahi kembali dengan mempertahankan tinggi muka air tanah sambil dikelola secara produktif. Dengan begitu, lahan gambut tetap mampu menyimpan cadangan karbon dalam jangka waktu lama. “Melalui teknik paludikultur dapat dilakukan pencegahan kebakaran, konservasi jenis hewan dan tumbuhan, sebagai sumber ekonomi, hingga dapat menjadi alternatif solusi dari konflik lahan,” lanjutnya.


Sedangkan menurut Owin, pendekatan dalam melakukan pemberdayaan lahan gambut bisa dilakukan dengan pengorganisasian, potensi lokal, kearifan lokal, kontribusi, partisipasi, kebutuhan prioritas, dan kegiatan aktif dan inisiatif yang kemudian menghasilkan desain pekerjaan. Melaui model desain tersebut, dapat diketahui proses pendekatan yang dilakukan seperti apa sehingga akan dicapai kemandirian masyarakat dan program yang berkelanjutan. Karakteristik kerja, kepuasan kerja, dan produktivitas merupakan tiga aspek penting saat melakukan pendekatan ke masyarakat agar hasil yang diinginkan dapat tercapai.

“Yang sering dilupakan saat di lapangan adalah karakteristik kerja, baik dari variasi keterampilan, identitas tugas, signifikan tugas, otonomi, hingga umpan balik. Kemudian juga perlu diperhatikan kepuasan kerja yang dapat diukur dari prestasi, pengakuan, tanggung jawab, dan kemajuan. Apabila kedua hal tersebut tidak diperhatikan, tidak akan tercapai produktivitas,” kata Owin.