Read

Teknologi Pemodelan Prediksi Cuaca Penting Untuk Adaptasi Perubahan Iklim

Pemanfaatan teknologi pemodelan prediksi bencana hidrometeorologi membantu adaptasi terhadap perubahan iklim. Teknologi tersebut sejatinya juga bisa membantu peningkatan produksi berbagai komoditas pangan di tanah air.

Pakar meteorologi ITB, Dr Armi Susandi mengingatkan pentingnya prediksi bencana hidrometeorologi di tengah fenomena perubahan iklim yang kini terjadi. Armi mengutip data Badan nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyatakan sekitar 92% bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi.  “Banjir, tanah longsor, kekeringan dan juga kebakaran hutan dan lahan adalah contoh bencana hidrometeorologi,” kata dia pada diskusi Pojok Iklim di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Manggala Wanbakti, Jakarta, Rabu (30/8/2017).



Pojok Iklim adalah forum diskusi multipihak untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman aksi-aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Sarwono Kusumaatmadja dan Staf Ahli Menteri bidang Ekonomi Sumber Daya Alam KLHK Agus Justianto.


Armi menyatakan satu bencana hidrometerologi menyebabkan kerugian pada hampir semua sektor. Baik kesehatan, pemukiman, pertanian, energi, dan juga kehutanan. Untuk itu, katanya, kapasitas manajemen risiko bencana hidrometerologi perlu ditingkatkan sehingga penanganannya menjadi lebih taktis. “Salah satu yang kami lakukan memperbaiki penyediaan informasi risiko bencana hidrometeorologi,” katanya.

Armi menjelaskan, pihaknya telah mengembangkan teknologi integrasi model prediksi bencana hidrometeorologi. Model prediksi yang dimanfaatkan adalah model yang dikembangkan World Research and Forecasting (WRF) yang sudah digunakan banyak komunitas di 150 negara. Model prediksi WRF mampu menghasilkan prediksi cuaca seperti curah hujan, arah dan kecepatan angin, temperatur udara, dan kelembaban udara dalam skala ribuan kilometer sampai 1 kilometer untuk prediksi 3-5 hari ke depan.


Model WRF kemudian kemudian diintegrasikan dengan ITB Smart Climate Model (SCM) yang patennya atas nama Armi. ITB SCM memiliki akurasi tinggi dengan dilakukannya tiga langkah verifikasi. Yaitu satu langkah ke depan, satu langkah ke depan, dan simpangannya. 

Menurut Armi, dengan integrasi model tersebut, pihaknya sedang menyiapkan prediksi cuaca dengan akurasi sangat tinggi dengan akurasi 3 kilometer untuk skala nasional dan 1 kilometer khusus di Jawa.

Model WRF juga diintegrasikan dengan model prediksi banjir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Integrasi model predisksi tersebut kemudian disatuan dalam sistem pendukung pengambilan keputusan. “Sistem ini akan menyarankan keputusan apa yang harus diambil terkait cuaca,” katanya.


Menurut Armi, untuk mendukung teknologi yang dikembangkan, pihaknya baru saja kedatangan komputer server dengan 416 core. Komputer server itu melengkapi komputer server yang sudah ada sebelumnya.

Armi mengungkapkan teknologi mengembangkan integrasi model prediksi cuaca yang dikembangkan pihaknya telah diujicoba di sejumlah daerah. Hasilnya, petani bisa memprediksi datangnya hujan dengan lebih akurat. “Ada satu desa di Timor Tengah Utara, dimana petani sudah menanam di bulan Oktober mengikuti prediksi yang kami berikan. Padahal saat itu cuaca sedang kering. Tapi prediksi kami terbukti, hujan mulai turun dan panennya berhasil,” katanya seraya menambahkan akurasi prediksi yang dihasilkan mencapai di atas 90%.

Armi melanjutkan, pihaknya telah mengembangkan sistem informasi prediksi iklim yang bisa diakses dengan mudah. Termasuk dengan menyediakan aplikasi yang bisa dipasang pada ponsel dengan sistem operasi android maupun IOS.



Sementara itu Agus Justianto menyatakan adanya prediksi cuaca dengan akurasi tinggi merupakan capaian penting dalam upaya adaptasi perubahan iklim. Dia juga menyatakan, prediksi tersebut malah bisa mendukung peningkatan produksi komoditas pertanian dan kehutanan. *