Read

Inisatif Generasi Muda Tingkatkan Pemahaman Perubahan Iklim

Generasi muda Indonesia memiliki berbagai inisiatif kreatif untuk meningkatkan kesadaran publik untuk bergerak bersama dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

Berbagai inisiatif tersebut ditampilkan pada diskusi Pojok Iklim bertema "The Art and Science of Youth Movement for Climate Change" pada Climate Change Forum and Expo 2017 di Jakarta, Kamis (7/9/2017). Selain peserta umum, diskusi juga diikuti sejumlah pelajar sekolah menengah pertama.



Salah satu inisiatif yang muncul adalah film berjudul ‘Negeri Dongeng’ yang digarap oleh sineas muda yang tergabung dalam tim Aksa 7. Film yang disutradarai Anggi Frisca itu menceritakan tentang kisah nyata menggapai 7 puncak tertinggi di Indonesia. Meski berfokus pada kisah pendakian gunung, film ini juga mengajak penonton untuk melihat pada kehidupan manusia dan alam liar dengan segala problematikanya. Film juga ditujukan untuk menggugah rasa kebangsaan masyarakat Indonesia.

“Ini adalah film interaktif yang mengajak penonton untuk menjaga hutan dan melestarikan lingkungan Indonesia,” kata Anggi Frisca.

Anggi mengingatkan, manusia membutuhkan pohon untuk tetap hidup. Pohon menyediakan oksigen dan beragam manfaat lain yang tidak bisa disediakan oleh tiang-tiang beton seperti di perkotaan.


Produser film Negeri Dongeng  dr Chandra Sembiring menuturkan, film mulai digarap sejak akhir tahun 2014 di Gunung Kerinci, Sumatera, dan diakhiri April 2016 di Puncak Cartenz, Papua.

Berdurasi sekitar 90 menit, film ini melibatkan artis kenamaan seperti Nadine Chandrawinata, Medina Kamil, dan Darius Sinathriya. “Film ini mendapat rating ‘semua umur’ sehingga bisa ditonton oleh semua kalangan,” kata Chandra, dokter muda yang sering terlibat pada berbagai kegiatan penanggulangan bencana alam.

Dia menambahkan, film ‘Negeri Dongeng’ sedang dipersiapkan untuk tayang di bioskop dalam waktu dekat.


Inisatif lain yang juga inspiratif adalah kampanye pengurangan penggunaan plastik ‘Diet Kantong Plastik’. Program Manager Diet Kantong  Plastik  Adithiyasanti Sofia menjelaskan, pengurangan penggunaan kantong plastik sudah semestinya dilakukan.  “sampah yang ditimbulkan dari penggunaan kantong plastik sudah mengkhawatirkan,” katanya.

Dia mengungkapkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti Universitas  Georgia, Dr. Jenna Jambeck dan dipublikasikan pada Jurnal Science (www.sciencemag.org) pada 12 Februari 2015, Indonesia adalah penyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia. “Lebih dari 80% sampah plastik di daratan akan berakhir di lautan,” kata Diti, panggilang akrab  Adithiyasanti.


Diti mengingatkan kantong plastik sangat berbahaya. Jika dibakar, maka zat-zat beracun akan menyebar dan membahayakan manusia. Kantong plastik juga butuh lama untuk terurai. Bahkan bisa lebih dari 100 tahun.  Padahal, siklus penggunaan sangat cepat oleh konsumen. Sampah plastik juga bisa mengotori lingkungan, menyumbat badan air yang bisa membuat banjir.

“Bahaya lainnya, plastik diproduksi dari minyak bumi yang tidak terbarukan, inilah yang berdampak pada perubahan iklim,” kata Diti.

Dia menuturkan, untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, pihaknya pernah merancang petisi daring yang diteken lebih dari 70.000 orang. Petisi ini kemudian direspons baik oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menerapkan uji coba plastik tidak gratis di tahun 2016.

Hasil survey terhadap uji coba kebijakan plastik tidak gratis menunjukan hasil positif. Di Bandung, penggunaan kantong plastik berkurang 42% dan di Balikpapan turun hingga 45%. Bahkan di Banjarmasin turun hingga 100%. “Kami berharap kebijakan tentang plastik tidak gratis bisa dikeluarkan pemerintah dalam waktu dekat,” katanya.



Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sarwono Kusumaatmadja mengapresiasi inisiatif peningkatkan kesadaran publik terhadap perubahan iklim yang dilakukan anak muda. Inisiatif tersebut diharapkan direspon lebih luas oleh generasi muda untuk upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

“Masa depan Indonesia dan dunia dalam menghadapi ancaman perubahan iklim ada di tangan generasi muda,” katanya.

Sarwono menuturkan, Indonesia diuntungkan karena profil demografi menunjukan banyaknya generasi muda produktif.  Sementara negara-negara lain seperti Jepang, China, bahkan Thailand menunjukan bahwa penduduknya saat ini mulai menua.  "Bonus demografi ini harus dimanfaatkan untuk kegiatan produktif  seperti pengendalian perubahan iklim," katanya. **